Pribadi yang Jujur


Ilustrasi

Pendalaman Alkitab GSM
Jemaat GMIT Tamariska Maulafa

Jumat,  1 Maret 2024


Pribadi yang Jujur
Bacaan:
Yohanes 2 : 13 - 22

I  Tujuan Pembelajaran
  1. Anak dan Remaja mampu memahami bagaimana caranya bersikap jujur melalui bacaan Firman Tuhan.
  2. Anak dan Remaja mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk sikap jujur yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Anak dan Remaja mampu mengaplikasikan sikap hidup jujur berdasarkan cerita yang disampaikan.
II Pendalaman Teks dan Konteks
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) jujur berarti tidak berbohong, tidak curang, tulus dan ikhlas. Artinya, selalu mengatakan apa adanya, selalu mengikuti aturan yang berlaku, tidak berpura-pura dan hatinya selalu bersih. Jika harus memilih antara berkata jujur atau bohong, pasti semua orang ingin berkata jujur dan sedapat mungkin untuk tidak berbohong.
Kejujuran menjadi sesuatu yang langka, menjadi susah diperoleh karena seringkali tidak diprioritaskan dalam hubungan sesama manusia. Memelihara sikap tidak jujur sama saja dengan membawa hidup kita pada perbudakan dosa. Mengorbankan kebenaran hanya untuk diterima dan dipandang baik di mata manusia adalah prinsip yang salah. Lagipula tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari hadapan Tuhan, Ia dapat melihat jauh kedalam hati kita.
Dalam bacaan kita hari ini, kita dituntun untuk melihat pengalaman Yesus ketika berhadapan dengan pedagang yang tidak jujur. Diceritakan bahwa Tuhan Yesus membuat cambuk dari tali lalu mengusir penukar uang dan pedagang-pedagang yang sedang berjualan di Bait Suci. Tuhan Yesus sedang marah di Bait Allah pada hari raya Paskah orang Yahudi. Paskah Orang Yahudi adalah peringatan yang dilakukan untuk mengenang bagaimana nenek moyang mereka (bangsa Israel) berhasil keluar dari perbudakan di Mesir. Maka dari itu, setiap tahun mereka harus pergi ke Yerusalem untuk beribadah dan memberi persembahan kepada Tuhan sebagai ungkapan syukur.
Pada awalnya, penukar uang dan pedagang yang ada di Bait Allah ada untuk memudahkan orang yang akan beribadah untuk memberikan persembahan kepada Tuhan. Karena tidak semua orang Yahudi yang beribadah tinggal di Yerusalem, maka membawa kambing, domba, lembu akan sulit dibawa dari kota di mana mereka tinggal ke Yerusalem. Apalagi, hewan korban persembahan itu harus tidak bercacat. Hewan-hewan tersebut harus diperiksa oleh para imam. Jika hewan tersebut tidak sesuai dengan kriteria, maka hewan tersebut tidak dapat dibawa sebagai korban persembahan.
Ayat yang kita baca hari ini, menunjukkan bahwa Yesus menemukan penukar uang dan pedagang yang ada di Bait Allah telah melenceng dari tujuan utama mereka. Mereka tidak lagi membantu dan memudahkan orang yang akan beribadah, tetapi justru mempersulit dengan memberikan harga yang tidak masuk akal. Mereka tidak jujur dalam bertransaksi dengan memberikan harga sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Hewan-hewan yang diterima sebagai korban persembahan haruslah hewan yang mereka beli pada pedagang-pedagang yang ada di Bait suci dan para imam tidak menerima hewan yang dibawa sendiri oleh orang yang mau beribadah. Akibatnya, orang-orang dengan ekonomi terbatas, kesulitan untuk mempersembahkan korban persembahan untuk Tuhan.
Yesus mau agar pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati jujur dalam berjualan. Bukan mengambil untung sebanyak-banyaknya dan mempersulit orang yang beribadah dengan harga kurban persembahan yang mahal. Yesus mau agar imam-imam kepala jujur dengan cara menerima hewan yang tidak bercacat (sesuai aturan hukum Taurat), yang dibawa oleh orang-orang yang ingin beribadah di Bait Allah dan bukan hanya menerima hewan-hewan yang dijual oleh pedagang-pedagang. Yesus mau agar penukar uang jujur dalam proses penukaran agar orang yang beribadah dapat membayar pajak dan biaya pelayanan di Bait Suci sesuai dengan nilai tukar uang yang ada dan tidak mengambil untung sebanyak-banyaknya dengan menaikan nilai tukar yang sangat tinggi.
Seringkali dalam kehidupan kita, kita pasti pernah dihadapkan pada tawaran tentang cara yang cepat dan mudah untuk mencapai tujuan, termasuk dengan memanipulasi kebenaran, menurunkan standar kebenaran menjadi tidak terlalu penting/berbohong. Ingatlah bahwa sebagai orang kristen kita belajar bahwa kejujuran adalah kunci kebahagiaan hidup. Kejujuran bukanlah sekedar nilai moralitas yang baik. Kejujuran adalah identitas kita sebagai anak Tuhan. Kejujuran adalah tanda kita sebagai anak Tuhan, sebab jika kita berbohong kita bukan anak Tuhan melainkan anak Iblis. Dalam Yoh.8:44 dengan tegas mengatakan bahwa jika kita berdusta maka kita sedang melakukan keinginan iblis. Bahkan lebih dalam dari itu dikatakan bahwa bila kita berdusta maka iblis adalah bapa kita. Dengan kata lain bahwa dengan berdusta kita menjadi anak iblis, sebaliknya bila kita hidup jujur kita adalah anak Tuhan.
Belajar dari cerita hari ini, marilah kita bersikap jujur dalam tutur dan laku hidup kita. Janganlah kita suka berbohong karena kejujuran adalah sebuah keharusan, tentu tidak mudah, tapi menuntun kita pada kebenaran dan keselamatan. Memulai kejujuran dari dalam hati akan membentuk perilaku yang jujur di hadapan manusia dan Tuhan. Kejujuran adalah pilihan terbaik yang harus kita ambil. Kejujuran adalah kunci kepercayaan orang lain pada apa yang kita katakan dan lakukan. Orang-orang akan lebih menghargai sikap dan perkataan kita kalau sikap jujur terus kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Berpeganglah pada firman Tuhan dan berjuanglah dalam kejujuran.
Namun, kenyataannya berbohong sering menjadi pilihan dengan berbagai alasan. Robert Feldman, seorang psikolog dari Universitas Massachusetts Amherst mengemukakan beberapa alasan dibalik kebohongan yang dilakukan, antara lain: 1) mengatasi rasa gugup; 2) berusaha meyakinkan seseorang; 3) menutupi kebohongan sebelumnya; 4) melindungi diri; dan 5) menyenangkan orang lain.
III  Kesimpulan dan Aplikasi
Yesus mau anak-anak belajar untuk bersikap jujur dalam hal apapun baik dalam perkataan maupun perbuatan hidup sehari-hari kepada semua orang dan menghindari sikap bohong:
  1. Jujur dalam perkataan: anak-anak dituntun untuk menyampaikan hal yang sesuai dengan kebenaran dan menghindari perkataan bohong. Misalnya: Kalau mau bermain bersama teman itu harus jujur kepada orang tua dan bukan mengatakan bahwa akan kerja kelompok, dsb.
  2. Jujur dalam perbuatan: anak-anak diarahkan untuk mengindari sikap atau perbuatan tidak jujur seperti mencontek tugas teman, beli jajan dalam jumlah besar tapi bayar sedikit, bawa persembahan dari orang tua nominalnya sekian tapi hanya dikasih sebagian, dsb.

Hari ini kita diingatkan untuk menjadi pribadi yang jujur, artinya Tuhan mau anak-anak menjadi contoh dengan selalu berbuat jujur apapun yang dilakukan, kapanpun waktunya, dimanapun mereka berada dan kepada siapapun termasuk kepada orang lain (orang tua, guru, teman, saudara, tetangga, keluarga, dsb).

GSM Tamariska Pendalaman Alkitab Renungan Alkitab

Berita Terpopuler

Kolom Komentar


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *